Kamis, 28 Februari 2019

Masjid Al Islam Petamburan Tanah Abang Jakarta

Masjid Al Islam Petamburan terletak di Jalan Karel Satsuit Tubun Tanah Abang Jakarta Pusat. Masjid ini merupakan salah satu masjid tua yang ada di Jakarta. Masjid ini berada di seberang Rumah Sakit PELNI Petamburan dan berjarak sekita 1 (satu) kilometer dari Museum Tekstil dan 2 (dua kilometer) dari Pusat Perbelanjaan tekstil Tanah Abang.

Masjid ini dibangun oleh seorang ulama asal Sumatera Barat bernama Syekh Burhanuddin Al Misri pada tahun 1771. Tujuan kedatangan Syekh Burhanuddin Al-Misri ke Batavia (Kini jakarta) adalah untuk berdakwah. Dia memilih kawasan Tanah Abang karena di daerah ini banyak bermukim para perantau yang umumnya pedagang di Pasar Tanah Abang. Pada masa itu kegiatan perdagangan di Pasar Tanah Abang didominasi oleh para pedagang non pribumi khususnya orang Arab dan Tionghoa.

Ketika itu di Tanah Abang belum ada Masjid yang dianggap startegis dan dekat dengan Pasar Tanah Abang. Perkembangan masjid ini selanjutnya dilanjutkan oleh cucu Syekh Burhanuddin Al Misri yang bernama Habibn Usman. Habib Usman dibantu oleh dua orang murid seniornya yang asli Betawi yaitu Haji Saidi dan Haji Muala. Setelah Habib Usman wafat aktivitas belajar- mengajar di masjid ini dilanjutkan oleh Haji Saidi dan kawan-kawan.

Pada tahun 1925 Masjid Al Islam membuat gebrakan yang dimulai dengan penggunaan khotbah sholat Jum`at dalam bahasa Melayu. Hal ini mendapat reaksi keras dari para ulama di Batavia yang saat itu masih menggunakan bahasa Arab dalam khotbah sholat Jum`at. Konon polemik antara Haji Muala dengan para ulama tradisional terdengar pula oleh Pemerintah Belanda. Sehingga oleh karena itu dia dipanggil untuk didengar keterangannya.

Menjelang pecahnya Perang Kemerdekaan pada tahun 1945, Haji Muala yang sudah berusia lanjut menjadikan Masjid Al Islam Petamburan sebagai markas pejuang. Hingga saat ini Masjid Al Islam Petamburan lebih sering dikenal dengan sebutan Masjid Habib Usman.

Daftar Pustaka
jakartatribunnes.com.
duniamasjid.islamiccenter.or.id.
https://iwanabdurr.wordpress.com.
Winarno Adi. Jakarta 1740 Menyisir Jejak Betawi. Penerbit Gramedia Utama Jakarta (2010).

Sabtu, 23 Februari 2019

Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Budi Kemuliaan Jakarta

Rumah Sakit Budi Kemuliaan terletak di Jalan Budi Kemuliaan Jakarta Pusat tepatnya di perbatasanb Kecamatan Gambir dan Tanah Abang. Rumah Sakit ini merupakan salah satu rumah sakit warisan Belanda yang masih ada di Jakarta hingga sekarang. RSIA Budi Kemuliaan tidak jauh dari Museum Taman Prasasti dan Pusat Perbelanjaan Tekstil Pasar Tanah Abang.

Awalnya merupakan sebuah perkumpulan bernama Perkumpulan Budi Kemuliaan yang didirikan pada tanggal 1 September 1912 berdasarkan ilham dari buku Door Duisternis Tot Licht oleh J.H. Abendanon yang terbit poada tahun 1911. Buku ini merupakan kumpulan surat-surat R A Kartini yang dikirim kepada para sahabat penanya yang ada di Belanda. Perkumpulan ini diberi nama Vereeniging bevor dering van Inlandsche Zieken Verpleging (Perkumpulan untuk memajukan Ilmu Keperawatan Bumiputera).

Pada tahun 1917 Perkumpulan itu mendirikan Rumah Sakit Budi Kemuliaan sebagai tempat praktik para bidan. Pada tahun 1918 Perkumpulan itu mendirika Sekolah Bidan yang bertempat di Pejambon, Gambir, Jakarta Pusat, dengan masa pendidikan tiga tahun. Peserta didik adalah lulusan MULO (sekarang SMP). Kemudian pada tahun 1981 Sekolah Bidan itu berubah nama menjadi Akademi Kebidanan dengan lama pendidikan 1 tahun.

Daftar Pustaka
www.stikbudikemuliaan.ac.id.
sentrakesehatan.blogspot.com.
https://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Sakit_Budi Kemuliaan.
rsiabudikemuliaan.com.


         

Rumah Sakit PELNI (Pelayaran Nasional)


Rumah Sakit PELNI terletak di Jalan Karel Sasuit Tubun Petamburan Tanah Abang Jakarta Pusat.
Rumah Sakit ini adalah salah satu bangunan bersejarah yang ada di Jakarta. Rumah Sakit PELNI berada dekat dengan obyek wisata yang ada di Tanah Abang seperti Museum Tekstil dan Masjid Al Islam. RS PELNI dibangun oleh perusahaan pelayaran Belanda KPM (Koninklijke Pakketvaart Maatschappij) pada tahun 1913 dengan nama KPM Ziekenhuis. Gedung RS PELNI dirancang oleh arsitek Ir. FJL Ghijsels dari biro arsitek AIA (Algemmene Ingenieurs Agentschaap) dengan kontraktor F Stolz. Awalnya rumah sakit ini hanya melayani para pegawai KPM dan keluarganya.

KPM Ziekenhuis diresmikan pada tanggal 21 April 1918. KPM Ziekenhuis didirikan untuk merawat para pelaut KPM yang menderita penyakit kelamin dan TBC. Kemudian KPM Ziekenhuis berubah fungsi menjadi Rumah Sakit Umum khusus untuk pelayanan para pegawai KPM dan keluarganya.

Seiring dengan nasionalisasi KPM menjadi PT Pelni, pada tanggal 3 Desember 1957 para pegawai KPM mengambil alih KPM Ziekenhuis dan selanjutnyab pengelolaannya diserahkan kepada PN (perusahaan Negara ) PELNI yang kemudian berganti nama menjadi PT PELNI.
Pada tanggal 1 April 1972 Direktur Utama PN Pelni mengeluarkan surat keputusan pengelolaan RS PELNI kepada PT PELNI.

Pada tanggal 21 April 1975 Rumah Sakit PELNI berganti nama menjadi Rumah Sakit PELNI Petamburan mengingat lokasinya berada di Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Pada tanggal 31 Desember 2007 keluar surat keputusan pemisahan RS PELNI dari Menteri Negara BUMN yang mengubah status RS PELNI dari Usaha Sampingan menjadi anak perusahaan PT PELNI dan Yayasan Kesehatan Pensiunan PT Pelni dengan demikian mengubah nama RS PELNI Petamburan menjadi RS PELNI.

Daftar Pustaka

https : www.sumber.com.
prime.rspelni.co.id.
https : sport.bisnis.com.
listrumahsakit.com.

Museum Bank BTN

                                           Museum Bank BTN (Bank Tabungan Negara)

Museum Bank BTN terletak di Jalan Gajah Mada Nomor 1 Harmoni Jakarta Pusat. Gedung ini merupakan salah satu gedung bersejarah yang masih ada di Jakarta. Museum Bank BTN didirikan pada tahun 1897 berdasarkan besluit (surat keputusan) pemerintah kolonial Belanda pada tanggal 16 Oktober 1897 . Awalnya merupakan kantor Postspaarbank pada zaman kolonial Belanda. Hingga tahun 1939 Postspaarbank memiliki 4 (empat) cabang di Makassar, Medan, Surabaya, dan Batavia (Jakarta). Pada zaman pendudukan Jepang (1942-1945) Postspaarbank dibekukan oleh tentara Jepang dan berganti nama nama menjadi Chokin Kyoku. Setelah Indonesia merdeka Chokin Kyoku diambil alih oleh Pemerintah Indonesia dan mengganti namanya menjadi Bank Tabungan Pos. Pada tahun 1963 Bank Tabungan Pos berubah nama menjadi Bank Tabungan Negara hingga sekarang.

Sejarah BTN :

1897 : Berdiri dengan nama Postspaarbank.
1942-1945: Postspaarbank ditutup dan berganti nama menjadi Chokin Kyoku.
1950 : Berdiri dengan nama Kantor Tabungan Pos dan Bank Tabungan Pos RI di bawah naungan Kementerian Perhubungan RI.
9 Februari 1950 Bank Tabungan Pos RI berubah nama menjadi Postspaarbank In Indonesia. Nama Bank Tabungan Pos dikukuhkan menurut Undang-Undang Darurat tanggal 18 Desember 1953.
22 Juni1963 : Berdiri Bank Tabungan Negara (BTN) dan dikuatkan dengan Undang-Undang No. 2 tahun 1964 tertanggal 25 Mei 1964.
1968 : Bank BTN menjadi BUMN dan menjadi Bank Indonesia (BI) Unit V.
1974 : Pelayanan lebih difokuskan.
1989 : Mendapatkan izin bank umum dan obligasi.
1992 : Bank BTN menjadi Persero.
1994 : Bank BTN menjadi bank devisa.
2000: Bank BTN mengikuti program rekapitulasi,
2002: Pinjaman Tanpa Subsidi.
2003: Restrukturisasi Bank BTN.
14 Februari 2005: Berdiri Bank BTN Syariah.
2008: Sekuritisasi aset.

Daftar Pustaka
https://id.wikipedia.org/wiki/ Bank_Tabungan_Negara
yes-sejarah.blogspot.com.
britama.com.
bank-adalah.com.
http:www.btn.co.id.

Selasa, 12 Februari 2019

masjid al makmur tanah abang

Masjid Al Makmur Tanah Abang Jakarta Pusat  terletak di jantung pusat perbelanjaan tekstil terbesar di Asia Tenggara Pasar Tanah Abang. Masjid ini dibangun oleh keturunan bangsawan Kesultanan Mataram yang dipimpin oleh Kyai Haji Muhammad As Syuro pada tahun 1704 dalam bentuk musholla ukuran 12 x 8 meter. Selain membangun Masjid Al Makmur Tanah Abang, para bangsawan Mataram itu membangun pula masjid-masjid lainnya yang ada di Jakarta seperti Masjid Jami Al-Mansur dan Masjid Matraman.

Pada tahun 1915 Masjid Al Makmur Tanah Abang diperluas oleh Habib Abu Bakar Alhabsyi, seorang pendiri yayasan yatim piatu Darul Aitam yang berlokasi juga di Tanah Abang. Luas Masjid menjadi 1.142 meter ketika Habib Abu Bakaar Alhabsyi memberikan tanah wakafnya itu. Pada tahun 1932 Masjid Al Makmur Tanah Abang diperluas lagi di atas tanah milik Salim bin Muhammad bin Thalib. Kemudian diperluas lagi menjadi 2.175 m2 pada tahun 1953.

Masjid ini memiliki dua menara kecil bergaya mercusuar. Tiga pilar berbentuk ramping berbentuk kelopak melati dan list plang lima lubang angin masih bertahan.

Daftar Pustaka

www.indoplaces.com.
www.medcom.id.
Heru Santoso. Wisata Masjid Tua Di Jakarta. Penerbit Nirwana Bandung (2012).
Wawancara dengan pengurus Masjid Al Makmur Tanah Abang Bapak Rudi tahun 2011.
tanahabangblokminfo.wordpress.com.

Minggu, 10 Februari 2019

Perpustakaan Nasional Gambir

Gedung Perpustakaan Nasional merupakan obyek wisata baru yang ada di Jakarta. Gedung ini juga merupakan salah satu warisan kolonial Belanda yang masih ada di Jakarta. Gedung Perpustakaan Nasional terletak Di jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11 Gambir Jakarta Pusat. Gedung ini dibangun pada tahun 1942 sebagai kantor perpustakaan sejarah, politik, dan sosial. Gedung ini dirancang oleh tiga arsitek Belanda yaitu J.J. de Bruijn, A.P. Smits dan Charles Van De Linde.

Pada tanggal 7 Juli 1952 didirikan perpustakaan sejarah, sosial, dan politik di gedung ini oleh Stichting Voor Culture Samenwerking (Lembaga kerjasama kebudayaan Belanda dan Indonesia) yang digagas oleh Wakil Presiden RI yang pertama Drs. Mohammad Hatta. Yang unik dari bangunan ini dadalah barisan kolom tiang bergaya Yunani Kuno yang berada di beranda Gedung Perpustakaan Nasional yang berfungsi sebagai pendukung atap yang menjulang ke atas.

Daftar Pustaka

https://situsbudaya.id.

Istana Merdeka Jakarta

Istana Merdeka merupakan salah satu obyek wisata yang tak kalah menarik pula yang ada di Jakarta. Gedung ini merupakan salah saksi sejarah Jakarta dan bahkan Indonesia dan gedung ini merupkan salah satu bangunan warisan kolonial Belanda yang masih ada di Jakarta. Istana Merdeka dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1873 pada zaman pemerintahan Gubernur Jenderal Belanda James Loudon dan selesai dibangun pada tahun 1879. Bangunan ini diresmikan oleh Gubernur Jenderal Willems Van Landsberge. Pada tahun 1869 Gubernur Jenderal Belanda Jan Pieter Meijer memerintahkan pembangunan istana gubernur jenderal Belanda yang baru untuk menggantikan Istana Negara yang dinilai sudah sesak.

Istana Merdeka dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Drossares. Pada zaman kolonial Belanda Istana Merdeka disebut Koninsplein Paleis. Total biaya keseluruhan pembangunan Istana Merdeka ini memakan biaya 360.000 gulden. Masyarakat Betawi sering menyebut istana ini dengan sebutan Istana Gambir karena banyaknya pohon Gambir yang tumbuh di sekitar Istana Merdeka.

Pada zaman pendudukan Istana Merdeka menjadi kediaman resmi Saiko Sikikan (Panglima Angkatan Darat Jepang di Indonesia). Pada tanggal 27 Desember 1949 Istana Merdeka menjadi tempat penandatanganan Penyerahan Kedaulatan dari Belanda kepada Republik Indonesia Serikat pada tanggal 27 Desember 1949. Pihak Belanda di wakili oleh Mahkota Tinggi Belanda A.H.J. Lovink dan pihak RI diwakili oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. 

Disini pula saat itu diadakan upacara penurunan bendera Belanda dan pengibaran bendera Merah Putih. Tetapi ketika bendera Merah Putih menjulang ke atas dan berkibar, meledaklah kegembiraan ratusan ribu massa yang memenuhi tanah lapangan dan tangga-tangga istana ini sambil meneteskan air mata meneriakan pekik Merdeka ! Merdeka ! Sejak saat itu Istana Gambir diberi nama Istana Merdeka. Pada tahun 1950 Istana Merdeka menjadi tempat upacara Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia untuk pertama kali.

Daftar Pustaka

https:/id.wikipedia.org/wiki/Istana_Merdeka.
presidenri.go.id/istana-2.
https://news.okezone.com.
https://blog.tiket.com/istana_kepresidenan_Indonesia.

Istana Negara Jakarta

Istana Negara adalah salah satu obyek wisata yang tidak kalah menariknya di Jakarta. Gedung bersejarah ini merupakan salah satu bangunan warisan kolonial Belanda yang masih ada di Jakarta hingga saat ini. Istana Negara dibangun pada tahun 1796 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Belanda Pieter Gerardus VanOverstraten dan selesai dibangun pada tahun 1804 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Belanda Johannes Sieberg. Bangunan ini semula adalah milik seorang pengusaha Belanda bernama Jacob Andries Van Braam.

Pada zaman penjajahan Inggris (British Interregnum) Istana Negara menjadi kediaman resmi Komisaris Inggris. Pada tahun 1848 bangunan atas Istana Negara dipindahkan. Di sini pula Gubernur Jenderal Belanda yang terakhuir Tjarda van Starkenborgh Stachouwer menandatangani penyerahan tanpa syarat Belanda kepada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942. Pada zaman pendudukan Jepang Istana Negara menjadi Istana Panglima Angkatan Darat Jepang di Indonesia (Saiko Sikikan) hingga Jepang menyerah pada tahun 1945.

Pada tahun 1821 Pemerintah kolonial Belanda membeli bangunan itu untuk digunakan sebagai rumah peristirahatan para gubernur jenderal Belanda. Pada zaman kolonial Belanda Istana Negara disebut Istana Rijswick. Di Istana Rijswick inilah pada tahun 1829 Gubernur Jenderal Belanda G.A.G Baron Van Der Capellen mendengarkan rencana Jenderal Hendrik Merkus Baron De Kock untuk menumpas perlawanan Pangeran Diponegoro. Di istana ini pula Gubernur Jenderal Belanda Johannes Van Den Bosch mulai membuat kebijakan tanam paksa (cultuurstelsel) yang menguntungkanpemerintah kolonial Belanda tetapi menyengsarakan para petani pribumi.

Pada tanggal 25 Maret 1947 Istana Negara menjadi tempat penandatanganan Naskah Perjanjian Linggajati.

Daftar Pustaka

https://blog.tiket.com/istana_kepresidenan_indonesia.
https://en.wikipedia.org/wiki/Istana_Negara_Jakarta.
presidenri.go.id/istana-2.
https://news.okezone.com.

Sabtu, 09 Februari 2019

Kampung Arab Pekojan Kota Tua Jakarta

Kawasan Pekojan terletak di kecamatan Tambora Jakarta Barat. Kawasan ini terletak pula di jantung kawasan wisata Kota Tua Jakarta. Kampung Arab Pekojan merupakan Kampung Arab di Jakarta. kata Pekojan berasal dari kata Koja yakni daerah di India yang penduduknya beragama Islam dan sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai saudagar. Pada awal abad ke-20 Kampung Arab Pekojan menjadi tempat kelahiran organisasi pendidikan Jamiatul Kheir yang didirikan oleh dua orang bersaudara Shahab, Ali dan Idrus, Syekh Basandid, dan Muhammad Al-Mashur. Di Pekojan Pemerintah kolonial Belanda mengenakan sistem passenstelsel (semacam KTP) dan wijkenstelsel (pemukiman berdasarkan etnis)bukan saja menempatkan mereka di pemukiman khusus tetapi juga mengharuskan mereka memiliki surat pas atau surat jalan apabila ingin bepergian ke luar wilayah.

Sebelum dihuni oleh orang Arab asal Yaman, Pekojan dihuni oleh orang-orang India muslim asal Bengali. Meskipun terkenal dengan sebutan Kampung Arab, saat ini Pekojan dihuni pula oleh warga etnis Tionghoa.

Menurut salah satu warga Pekojan keturunan Arab, Ahmad Assegaff (64 tahun) banyak warga etnis Arab yang telah pindah ke kawasan lainnya di Jakarta seperti Condet, Kampung Melayu, Cawang, Kwitang, dan Tanah Abang. Dia melanjutkan namun masih ada beberapa warga keturunan Arab yang masih tinggal di Pekojan.

Sebagai sebuah kampung tua, kawasan Pekojan memiliki sejumlah peninggalan bersejarah seperti Masjid Al-Ansor (1648), Masjid Kampung Baru (1748), Masjid An Nawier (1760), Masjid Adz Zawiyah (1812), Musholla Raudhoh (1887), dan Langgar Tinggi (1829) yang masih kokoh berdiri hingga kini.

Daftar Pustaka

https://id.wikipedia.org/wiki/Pekojan,_Tambora,_,Jakarta Barat.
https://kumparan.com.
https://travel.kompas.com.
https://www.kompasiana.com.

Cafe Batavia

Cafe Batavia adalah salah satu obyek wisata yang tak kalah menariknya untuk anda kunjungi selama anda berwisata di Jakarta. Gedung itu berada tepat berada di jantung Kota Lama Jakarta atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kota Tua Jakarta. Cafe Batavia dibangun oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1805 hingga 1850 sebagai tempat tinggal pejabat tinggi pemerintah kolonial Belanda yang bekerja di balaikota Batavia (kini Museum Sejarah Jakarta) dan digunakan pula sebagai gudang.

Pada tahun 1880an gedung ini menjadi kantor perusahaan dagang Belanda E Dunlop & Co. Kemudian gedung ini berfungsi sebagai kantor tiga perusahaan pelayaran Belanda yang bergerak di bidang transportasi laut untuk jamaah haji yaitu Rotterdam Lloyd, Stoomvaart Maatschappij Nederland, dan Stoomvaart Maatschappij Ocean.

Pada tahun 1991 gedung tersebut menjadi galeri seni milik seorang Perancis Paul Hassan, sahabat dekat mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan. Kemudian gedung itu dibeli oleh seorang Australia bernama Graham James. Graham James mrestorasi gedung tersebut pada tahun 1992-1993.

Daftar Pustaka

jadiberita.com.
jakartahariini.com.
https://id.wikipedia.org/wiki/Cafe_Batavia.
https://wisatasejarahjakartablog.wordpress.com.
Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Jakarta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Museum Arsip Nasional Republik Indonesia

Museum Arsip Nasional adalah salah satu obyek wisata di DKI Jakarta yang layak anda kunjungi. Gedung tersebut terletak di Jalan Gajah Mada Nomor 111 Jakarta Barat. Museum ini didirikan pada tahun 1760. Gedung ini awalnya merupakan rumah milik Gubernur Jenderal Belanda Reinier de Klerck. Dahulu gedung ini dikelilingi oleh parit yang digunakan mempertahankan kota Batavia dari serangan Kesultanan Banten atau Mataram.

Setelah Reinier de Klerck meninggal, gedung ini menjadi milik Gubernur Jenderal Belanda Johannes Sieberg (1801-1805) dan tinggal di gedung ini selama penjajahan Inggris dan Perancis. Kemudian gedung ini dibeli oleh seorang Polandia keturunan Yahudi bernama Jahoede Leip Jewgiel Igel. Pada tahun 1900 ada rencana untuk membongkarnya dan membangun pertokoan di tempatnya.namun Batavia Genootschap van Kunsten en Wetenschappen ( Perhimpunan Batavia untuk seni dan ilmu). Kemudian gedung ini pernah menjadi kantor Mijnwezen Dienst (Dinas Pertambangan) Pemerintah kolonial Belanda dan Landsarchiefs (Jawatan Arsip Negara) milik Pemerintah kolonial Belanda.

Pada zaman pendudukan Jepang gedung tersebut menjadi gedung jawatan arsip pemerintah militer Jepang di Indonesia (1942-1945). Setelah kemerdekaan Indonesia, gedung tersebut menjadi gedung Jawatan Arsip Negara. Pada tahun 1961 hingga sekarang Jawatan Arsip Negara berganti nama menjadi Arsip Republik Indonesia. Pada tahun 1974 Gedung Arsip Nasional RI dipindahkan ke Jalan Ampera Raya Pasar Minggu Jakarta Selatan. Setelah pemindahan selesai pada tahun 1979, bangunan tersebut tidak digunakan sama sekali dan kondisinya menjadi semakin buruk.

Pada tahun 1992 ada desas-desus bahwa gedung lama Arsip Nasional RI akan dibongkar oleh keluarga mantan Presiden Soeharto untuk membangun pertokoan, sama seperti tahun 1900. Gedung ini diselamatkan oleh sekelompok pengusaha Belanda yang mendirikan Stichting Cadeu Indonesia (Yayasan Hadiah Indonesia) yang ingin memberikannya hadiah ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-50. Yayasan itu mengumpulkan dana untuk memugarnya dan menjadikannya sebuah museum.

Selain sebagai museum kini Gedung Arsip Nasional RI digunakan pula sebagai tempat penyelenggaraan pameran arsip dan tempat resepsi pernikahan. Museum ini dibuka untuk umum Senin hingga Sabtu pukul 9.00-16.00. Libur nasional tutup.Tiket masuk gratis.

Gedung Kesenian Jakarta

Gedung Kesenian Jakarta terletak di Jalan Gedung Kesenian Pasar Baru Jakarta. Gedung ini terletak di ujung selatan Pasar Baru, pusat perbelanjaan yang cukup populer di Jakarta. Gedung bersejarah ini berdekatan pula dengan obyek-obyek wisata lainnya seperti Museum dan Galeri Fotografi Jurnalistik ANTARA, Kantor Filateli Jakarta, dan Masjid Istiqlal.

Bangunan lawas ini dibangun oleh pemerintahan peralihan Inggris pada masa pemerintahan Sir Thomas Stamford Raffles pada tanggal 17 Oktober 1814. Awalnya merupakan gedung teater yang khusus digunakan untuk menghibur personil militer Inggris. Pembangunan gedung ini merupakan realisasi gedung kesenian yang serupa yang digagas oleh Gubernur Jenderal Belanda Herman Willem Daendels.

Pada tahun 1821 pemerintah kolonial Belanda memperluas gedung ini dan kemudian memberinya nama Schouwburg (Gedung Pertunjukan) yang menampilkan berbagai pertunjukan seni maupun opera. Pada zaman pendudukan Jepang gedung ini berganti nama menjadi siritu Gokyszoo (Gedung Kesenian). Pada tahun 1926 gedung ini menjadi tempat penyelenggraan kongres pemuda yang pertama yang melahirkan Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Kemudian gedung ini pernah digunakan sebagai ruang kuliah Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada tahun 1950an dan pada tahun 1960an gedung ini berfungsi sebagai bioskop.

Pada tahun 1987 Gedung Kesenian Jakarta dipugar dan dikembalikan fungsinya sebagai gedung kesenian yang menampilkan berbagai pertunjukan seni dari dalam negeri dan mancanegara.

Daftar Pustaka

www.tribunnews.com.
www.ensiklopedia.kemdikbud.com.
https://gedungkesenianjakarta.co.id.
journal.binus.ac.id.
Rekreasi Jakarta. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Museum Dan Galeri Fotografi Jurnalistik ANTARA

Museum Dan Galeri Fotografi dan Jurnalistik ANTARA terletak di Jalan Antara Pasar Baru Jakarta Pusat. Bangunan ini terletak tepat di ujung selatan Pasar Baru dan dilalui oleh bis Transjakarta jurusan Harmoni-PGC dan Kali Deres-Pasar Baru. Obyek-obyek wisata lainnya yang berdekatan dengan bangunan ini adalah Gedung Kesenian Jakarta, Kantor Filateli Jakarta, Masjid Istiqlal, dan Gereja Katedral.

Bangunan lawas ini dibangun pada awal abad kedua puluh. Awalnya merupakan gedung kantor berita Belanda ANETA (Algemeene Nieuws En Taal Agentschapp) yang memonopoli pemberitaan di seluruh Hindia Belanda. Sebelumnya kantor pusat ANTARA berada di Jalan Pinangsia di kawasan Glodok Kota Tua Jakarta dan pernah pula pindah ke Jalan Tanah Abang Barat Nomor 90 depan Rumah Sakit Budi Kemuliaan. Kantor Berita ANTARA didirikan oleh Alfred Sipahutar, Pandu Kartawiguna, Adam Malik, dan Sumanang SH atas prakarsa sastrawan Sanusi Pane pada tanggal 13 Desember 1937. Asal-usul nama ANTARA konon diambil dari nama surat kabar PERANTARAAN yang dipimpin oleh Sumanang SH.

Latar belakang berdirinya Kantor Berita ANTARA adalah rasa nasionalisme para wartawan Indonesia dan pemberitaan bohong yang diberitakan oleh kantor berita Belanda ANETA. Pada tanggal 29 Mei 1942 tentara Jepang menduduki gedung itu dan mengganti namanya menjadi kantor Berita DOMEI yang menjadi bagian dari kantor berita Jepang Yashima. Pada masa pendudukan Jepang ini semua kantor berita di Indonesia harus diregistrasi oleh Dinas Propaganda Jepang SENDENBU. SENDENBU melarang masuknya berita-berita dari luar negeri dan bahkan SENDENBU mensensor berita-berita yang masuk.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 gedung itu menjadi salah satu saksi sejarah kemerdekaan Indonesia karena dari gedung inilah proklamasi kemerdekaan Indonesia disiarkan ke seluruh Indonesia dan seluruh dunia. Pembacaan teks proklamasi di gedung itu didiktekan oleh Adam Malik tanpa menghiraukan izin dari Hondokan (Badan Sensor Jepang) seperti lazimnya kemudian oleh Penghulu Lubis dikirim ke bagian Radio dan menyelipkan di antara berita-berita lainnya. Pelaksanaan penyiarannya dilakukan oleh markonis Sugiri danberita proklamasi itu dikirim oleh markonis Wua.

Pada tanggal 2 September 1945 para wartawan kantor Berita ANTARA di bawah pimpinan Adam Malik mengambil alih kantor berita ANTARA dari pihak Jepang. Ketika ibukota Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta pada tanggal 4 Januari 1946 karena pasukan Belanda menduduki Jakarta, kantor Berita ANTARA turut pindah ke Yogyakarta dan Kantor Berita ANTARA cabang Jakarta ditetapkan sebagai cabang.

Selama perang kemerdekaan banyak wartawan kantor berita ANTARA yang turut bertempur di medan perang dan mengabadikan peristiwa-peristiwa bersejarah pada masa itu, seperti peristiwa perobekan warna biru bendera Belanda di Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit) di Surabaya pada tanggal 19 September 1945 yang diabadikan oleh seorang wartawan kantor berita ANTARA bernama Abdul Wahab Saleh.

Pada tanggal 1 Maret 1947 kantor berita ANTARA melakukan siaran ke luar negeri untuk pertama kali yang ditandai dengan ketukan morse yang dilakukan oleh Presiden Soekarno.
Pada tahun 1962 Presiden Soekarno mengubah nama Kantor Berita ANTARA menjadi LKBN (Lembaga Kantor Berita ANTARA).
Pada tanggal 12 Desember 1962 APB (Arabian Press Bureau) dilebur ke dalam Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara.
Pada tanggal 13 Desember 1962 ANETA dibubarkan.

Museum dan Galeri foto jurnalistik ANTARA menyimpan koleksi morse (pengirim berita dengan menggunakan kode), mesin stensil (mesin penggandaan kertas koran), mesin tik, mesin yang digunakan oleh para wartawan pada masa perang kemerdekaan, dan kliping koran dan majalah yang terbit di Indonesia pada zaman kolonial Belanda di lantai atas. Lantai bawahnya adalah ruang galeri dan pameran foto.

Daftar Pustaka

https://travel.detik.com.
https://ceciliaadrianto.wordpress.com.
https://kebudayaan.kemdikbud.com.
Arsip Museum dan Galeri Foto ANTARA.


Museum Tekstil


Museum Tekstil terletak di perbatasan Jakarta Barat dan Jakarta Pusat tepatnya di kelurahan Petamburan Kecamatan Palmerah Jakarta Barat yang berbatasan langsung dengan kelurahan Petamburan Kecamatan Tanah Abang Jakarta Pusat. Lokasinya sangat strategis karena dilalui oleh kendaran umum seperti angkot OK-Trip, kereta api Commuter Line dan bis Transjakarta tujuan Tanah Abang.

Bangunan lawas ini didirikan pada awal abad ke-19. Awalnya merupakan landhuis (rumah peristirahatan) milik seorang warga negara Perancis dan kemudian dijual kepada seorang konsul jenderal Turki Abdul Aziz Al Mussazi Al Katiri. Pada tahun 1942 bangunan itu dijual kepada Dr. Karel Christiaan Cruqc dan pada awal tahun 1945 edigunakan sebagai markas Perintis Front Pemuda dari Angkatan Pertahanan Sipil dalam perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada tahun 1947 bangunan milik seorang warga Tionghoa bernama Lie Siong Pin ini disewakan kepada Departemen Sosial untuk digunakan sebagai panti jompo. Pada tahun 1952 bangunan itu digunakan sebagai kantor Departemen Sosial. Namun pada tahun 1966 bangunan itu menjadi asrama karyawan. Pada tanggal 25 Oktober bangunan dan tanah diserahkan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan diresmikan oleh Ibu Tien Soeharto pada tahun 1976 sebagai Museum Tekstil.

Di area museum ini terdapat pendopo batik, galeri batik, perpustakaan, tempat penyimpanan, taman pewarna alami, taman serat, dan taman obat-obatan. Museum ini menyimpan koleksi batik dan tenun dari berbagai daerah di Indonesia.

Daftar Pustaka

https://tamasyadengananak.blogspot.com.
www.sukasadee.com.
asemus.museum.
https://merahputih.com.

Jumat, 08 Februari 2019

Pasar Senen

Pasar Senen merupakan suatu wilayah yang terletak di Jakarta Pusat. Pasar Senen merupakan salah satu pusat perbelanjaan tertua di Jakarta yang sudah eksis sejak zaman kolonial Belanda. Pasar Senen dibangun oleh seorang tuan tanah Belanda bernama Justinus Vinck pada tanggal 30 Agustus 1735 yang bersamaan dengan pembangunan Pasar Tanah Abang. Awalnya pasar ini hanya dibuka hanya setiap Senin. Itu sebabnya pasar itu disebut Pasar Snees kemudian belakangan menjadi Vinckpasser dan Pasar Senen. Sejak tahun 1766 pasar ini mulai dibuka setiap hari selain Senin. Sejumlah tokoh pergerakan nasional seperti Soekarno dan Hatta sering berkumpul di sini.

Pada era kemerdekaan, kawasan itu tempat berkumpulnya para seniman seperti Soekarno M. Noor, Misbach Yusa Biran dan lain-lain. Pada zaman pemerintahan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin Pasar Senen dicanangkan sebagai pembangunan Proyek Senen yang dilengkapi dengan fasilitas gedung parkir melingkar, yang merupakan lokasi parkir yang pertama di Jakarta.

Pada tanggal 15 Januari 1974 terjadi Peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) di kawasan itu. Mahasiswa yang marah dengan pemerintah yang dianggap pro asing berdemonstrasi di Salemba hingga Senen.Kemudian, massa yang tak dikenal membakar Pasar Senen.
Pembangunan Proyek Senen diikuti dengan pembangunan Pasar Inpal dan Terminal bis Senen. Pasar Senen juga pernah mengalami kebakaran pada tahun 1996, 2003, 2008, 2010, dan 2016.

Daftar Pustaka

https://kumparan.com.
https://www.liputan6.com.
https://www.merdeka.com.
https://megapolitan.kompas.com.

Pasar Tanah Abang


Pasar Tanah Abang merupakan salah satu pusat perbelanjaan grosir tekstil terbesar di Jakarta dan bahkan Asia Tenggara. Pasar Tanah Abang yang dahulu dikenal dengan sebutan Pasar Sabtu dibangun oleh seorang tuan tanah Belanda bernama Justinus Vinck pada tahun 1735 atas izin Gubernur Jenderal VOC (Belanda) Abraham Patras.

Pada saat itu orang-orang Belanda menyebut nama Tanah Abang dengan sebutan De Nabang karena di kawasan itu terdapat banyak pohon nabang (sejenis pohon palem) yang tertanam di kawasan itu. Kemudian masyarakat Betawi menyebutnya Tenabang. Pada zaman kolonial Belanda Pasar Tanah Abang pernah menjadi pasar hewan khususnya pasar kambing.

Asal usul nama Tanah Abang lainnya yaitu ketika kawasan itu menjadi pemukiman pasukan Mataram yang menyerang Batavia pada tahun 1628-1629 karena tanah di kawasan itu berwarna merah mereka menyebut kawasan itu Tanah Abang. Pada tahun 1648 penguasa Belanda Cornelis Van Der Lijn memberikan izin kepada kapitan Tionghoa kedua Phoa Bin Am untuk membuka lahan di Tanah Abang untuk dijadikan kebun melati, kacang, jahe, sirih, nanas, dan sayur-mayur.

Ketika terjadi Geger Pecinan Pasar Tanah Abang menjadi lesu karena Belanda membantai banyak warga etnis Tionghoa, merampas harta benda mereka, dan menjarah kebun-kebun mereka. Pada tahun 1881 Pasar Tanah Abang berangsur pulih. Pasar Tanah Abang padsa saat itu dibuka hanya setiap Rabu dan Sabtu.

Perputaran uang di Pasar Tanah Abang kembali hidup pada abad kedua puluh ketika para saudagar Arab dan Tionghoa banyak bermukim di Tanah Abang yang dikembalikan peruntukknnya sebagai pasar oleh pemerintah kolonial Belanda. Kini Pasar Tanah Abang menjadi perhatian warga karena kesemrawutannya. Kemacetan lalu lintas dan kriminalitas sering terjadi di sini.

Daftar Pustaka

https://travel.kompas.com.
jakarta.bisnis.com.
https://tirto.id.
Alwi Shahab. Batavia Kota Banjir. Penerbit Republika Jakarta (2008).
Rahmad Ruhiyat. Asal-Usul Nama Tempat Di Jakarta. Penerbit Masup Jakarta (2010).

Pasar Baru


Pasar Baru adalah suatu kawasan yang terletak di Kecamatan Sawah Besar Jakarta Pusat. Pasar Baru adalah salah satu kawasan pusat perbelanjaan tertua di Jakarta yang sudah eksis sejak zaman kolonial Belanda. Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels membangun Pasar Baru pada tahun 1820 untuk membedakan dengan dua kawasan pusat perbelanjaan yang sudah ada sebelumnya di Jakarta yaitu Pasar Tanah Abang dan Pasar Senen yang dibangun oleh seorang tuan tanh Belanda, Justinus Vinck, pada masa itu.

Pada awalnya Pasar Baru merupakan tempat para pedagang pribumi menjual hasil buminya dan para pedagang kelontong etnis Tionghoa membuka tokonya. Toko-toko di kawasan itu dibangun dengan gaya arsitektur Eropa dan Tionghoa. Orang-orang yang berbelanja di kawasan ini adalah orang-orang Belanda yang tinggal di Rijswijk (kini Jalan Veteran), kawasan yang dibangun oleh penguasa Belanda untuk orang-orang kaya di Batavia.

Selain etnis Tionghoa, di Pasar Baru banyak bermukim orang India-Indonesia yang berdagang kain, sepatu olahraga, dan sepatu. Sebagian besar para pedagang etnis India tinggal di Pasar Baru dan Pintu Air. Toko-toko lama yang masih ada di Pasar Baru adalah Apotik Kimia Farma, toko Lee Ie Seeng, toko alat rumah tangga Melati, toko jam Tjung Tjung, dan toko kacamata Seis (Tjun Lie). Penjahit pakaian yang telah ada sejak zaman dahulu di Pasar Baru adalah Isardas, Hariom, dan Gehimal, toko kain Bombay dan Lilaram.

Di ujung utara Pasar Baru dulu terdapat toko komik. Di Pasar Baru terdapat pula bioskop Capitol, Bioskop Astoria (Bioskop Satria), dan Bioskop Globe di Pintu Air. Pasar Baru merupakan tempat kelahiran restoran Bakmi Gang Kelinci yang telah berdiri sejak tahun 1957. Usaha Bakmi Gang Kelinci dimulai sebagai pedagang mie gerobak di Jaln Pintu Besi (kini Jalan Haji Samanhudi).

Di ujung selatan Pasar Baru terdapat jalan Antara, Jalan Pasar Baru Selatan, serta Jalan Pos yang berdekatan dengan Gedung Kesenian Jakarta.

Daftar Pustaka
https://id.wikipedia.org/wiki/.
infojakarta.net.
https://lifestyle.okezone.com.
www.dot.go.id.
Alwi Shahab. Batavia Kota Hantu. Penerbit Republika Jakarta (2008).

Galeri Nasional Indonesia


Galeri Nasional Indonesia terletak di Jalan Medan Merdeka Timur Nomor 14 Gambir Jakarta Pusat. Bangunan lawas ini merupakan salah satu bangunan warisan kolonial Belanda yang masih ada di Jakarta. Bangunan ini dibangun pada tahun 1817. Awalnya merupakan kediaman seorang pengusaha berkebangsaan Belanda bernama G.C. Van Rijk. Bahan bangunannya diambil dari reruntuhan kastil Batavia yang ada di Kota Tua Jakarta

Pada tahun 1900 gedung ini menjadi bagian dari lembaga pendidikan Kristen Protestan Carpentier Alting Stichting yang berada di bawah Ordo van Vrijtmaatselaaren atas gagasan Pendeta Ds Albertus Samuel Carpentier Alting. Gedung bergaya arsitektur Belanda ini digunakan untuk Asrama Khusus wanita, lembaga pendidikan yang pertama di Hindia Belanda.

Pada tahun 1955 penelolaan gedung ini diserahkan kepada Yayasan Raden Saleh yang masih berada di bawah ordo Vrijmaatselaaren. Pada tahun 1962 Presiden Soekarno mengeluarkan surat keputusan tentang pelarangan aktivitas Vritjmaatselaaren (Freemason) dan membubarkan Yayasan Raden Saleh. Sekolah beserta peralatannya diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia dan diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kini tempat itu digunakan sebagai tempat pameran lukisan.

Daftar Pustaka

galeri-nasional.or.id.
jakartapanduanwisata.id.
https://situsbudaya.id.
pameranceremonial.blogspot.com.

Museum Kebangkitan Nasional


Museum Kebangkitan Nasional terletak di Jalan Dr Abdurrahman Saleh Nomor 26 Senen Jakarta Pusat. Bangunan lawas ini merupakan salah satu bangunan warisan kolonial Belanda yang masih ada di Jakarta hingga sekarang. Pemerintah Belanda membangun gedung ini pada tahun 1899 menggantikan Sekolah Dokter Jawa yang telah berdiri sejak tanggal 1 Januari 1851 di rumah sakit militer Weltevreden (kini RSPAD Gatot Subroto Jakarta).

Latar belakang berdirinya lembaga pendidikan kedokteran di Indonesia yaitu munculnya wabah penyakit pes yang terjadi di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada tahun 1847. Pada saat itu pemerintah Belanda kekurangan tenaga medis untuk memberantas penyakit itu. Pada tanggal 2 Januari 1849 Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengeluarkan surat keputusan untuk mendirikan kursus mantri cacar. Kemudian pemerintah kolonial Belanda mulai merekrut para pemuda Jawa untuk dijadikan sebagai mantri cacar.

Masa pendidikan Sekolah Dokter Jawa dua tahun. Pendidikan diikuti oleh 12 orang yang semuanya berasal dari Pulau Jawa. Materi Pelajaran meliputi cara mencacar dan memberikan kepada pasien yang menderita sakit panas dan sakit perut. Bahasa pengantar menggunakan bahasa Melayu.

Pada tanggal 5 Juni 1853 Sekolah Dokter Jawa meluluskan 11 pelajar dan memberikan mereka dengan gelar Dokter Jawa. Mereka dipekerjakan sebagai mantri cacar, diperbantukan di Rumah Sakit Militer Weltevreden, dan membantu dokter militer Belanda merangkap sebagai dokter sipil.

Sejak tahun 1856 Sekolah Dokter Jawa menerima dua orang siswa asal Minahasa, Sulawesi Utara, dan Sumatera Barat. Pada tahun 1864 lama pendidikan Sekolah Dokter Jawa ditingkatkan dari 2 tahun menjadi 3 tahun dengan jumlah siswa dibatasi 50 orang. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas para dokter sehingga mampu bekerja sendiri di bawah pengawasan dokter Belanda dan pemerintah daerah. Namun pengabdian mereka mendapatkan penolakan dari beberapa dokter Belanda, sehingga sejak tahun 1864 pemerintah Belanda mencabut wewenang praktek dokternya dan mempekerjakan mereka sebagai mantri cacar.

Pada tahun 1875 lama pendidikan Sekolah Dokter Jawa ditingkatkan menjadi 7 tahun dengan jumlah siswa 100 orang. Pada tahun 1899 Direktur Sekolah Dokter Jawa Dr. H.F. Roll mengaggas pembangunan gedung baru. Pembangunan gedung baru itu sempat berhenti karena kekurangan dana. Namun, berkat bantuan dana dari pengusaha perkebunan tembakau berkebangsaan Belanda asal Deli, Sumatera Utara, bernama  H D Van Der Honert dan P.W. Janssens pembangunan gedung baru itu kembali terlaksana. Pada bulan September 1901 di Batavia muncul wabah penyakit beri-beri yang menyerang siswa Sekolah Dokter Jawa, sehingga pemindahan pelajar Sekolah Dokter Jawa dari Rumah Sakit Militer Weltevreden ke gedung baru di Hospitaalweg (sekarang Jalan Dr Abdurrahman Saleh) tertunda.

Pada tanggal 1 Maret 1902 Gedung baru itu diresmikan dengan nama STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen), yaitu Sekolah Dokter Bumiputera. Selama menjalani pendidikan, para siswa STOVIA wajib tinggal di asrama dan diawasi oleh seorang suppoost yang orang Indo Belanda dan menerapkan disiplin yang ketat. Jadwal kegiatan ditentukan dari pagi hingga malam hari, bagi yang melanggar peraturan akan dihukum sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Pada tahun 1909 STOVIA meluluskan siswa-siswanya untuk pertama kali dengan memberika gelar Inlandsche Arts. Jumlah siswa STOVIA yang terus bertambah menyebabkan Gedung STOVIA tidak lagi mampu menampung siswa-siswa baru.

Pada tahun 1919 pemerintah Belanda mendirikan CBZ (Centraal Burgerlijke Ziekeninrichting), sekarang Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo yang dipimpin oleh Dr. Hulskoff. Rumah sakit ini menjadi tempat praktek para siswa STOVIA karena sarana dan prasarana lebih lengkap dan modern.

Pada tanggal 5 Juli 1920 aktivitas belajar mengajar di STOVIA dipindahkan dari gedung lama ke gedung baru di Jalan Salemba 6 Jakarta karena fasilitasnya yang lebih lengkap. Gedung baru itu kini bernama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Sejak itu Gedung lama STOVIA berfungsi sebagai MULO (sekolah setingkat SMP) dan Sekolah Apoteker. Pada tahun 1928 Gedung Eks STOVIA menjadi tempat penyelenggaraan kongres pemuda kedua yang melahirkan Sumpah Pemuda.

Pada zaman pendudukan Jepang Gedung eks STOVIA digunakan oleh tentara Jepang untuk menampung para tawanan perang Belanda. Pada tahun 1945-1975 gedung ini menjadi pemukiman tentara Belanda etnis Ambon.

Pada tanggal 6 April 1973 Gedung eks STOVIA dipugar oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Pada tanggal 20 Mei 1974 Gedung eks STOVIA diresmikan oleh Presiden Soeharto sebagai Museum Kebangkitan Nasional.
Pada tanggal 12 Desember 1983 Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan menetapkan Museum Kebangkitan Nasional sebagai bangunan cagar budaya.

Daftar Pustaka

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id.
https://travel.detik.com.
www.jejakpiknik.com.
Buku Panduan Wisata Museum Kebangkitan Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.


Kamis, 07 Februari 2019

Kota Tua Jakarta

Kota Tua Jakarta disebut pula dengan sebutan Kota Lama Batavia, adalah wilayah kecil di Jakarta, Indonesia. Luasnya 1,3 kilometer persegi. Secara administratif Kota Tua Jakarta masuk ke dalam wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara (Pinangsia, Roa Malaka, dan Penjaringan).

Pada abad ke 17 orang-orang Belanda menyebut kota ini dengan sebutan " Permata dari Timur " dan " Ratu Dari Asia " karena pada saat itu Kota Lama Jakarta dianggap sebagai pusat perdagangan VOC (Belanda) di Asia karena lokasinya yang sangat strategis dan sumber daya yang melimpah.

Pada tahun 1526 Kesultanan Demak mengirim Fatahillah menyerang Sunda Kelapa di Kerajaan Hindu Pajajaran yang kemudian mengubah namanya menjadi Jayakarta yang artinya kemenangan. Pada tanggal 30 Mei 1619 Belanda menghancurkan kota Jayakarta dan menduduki kota itu. Pada tanggal 4 Maret 1621 Belanda secara resmi mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia. Nama Batavia diambil dari nama Batavieren, leluhur orang Belanda.

Penduduk Batavia disebut Batavianen yang kemudian dikenal sebagai etnis Betawi yang terdiri dari etnis kreol yang merupakan keturunan dari berbagai etnis yang tinggal di Batavia.
 Belanda membangun kota Batavia Lama yang dikelilingi oleh 22 bastion (tembok kota), kastil (benteng), dan kanal. Kota ini diatur dalam beberapa blok yang dipisahkan oleh kanal.

Pada tanggal 22 Agustus 1628 Mataram menyerang orang-orang Belanda di Batavia karena Mataram ingin mengusir Belanda dari Pulau Jawa. Pada tanggal 21 September Mataram menyerang benteng Belanda di Batavia namun berhasil dihalau. Pada tanggal 28 November 1628 Mataram kembali menyerang Batavia namun berhasil dihalau oleh orang-orang Belanda. Kanal-kanal diisi karena munculnya wabah tropis di dalam kota Batavia karena sanitasi sangat buruk.
Sejak tahun 1680an dan 1735 Batavia dilanda wabah penyakit tropis seperti kolera dan disentri yang menyebabkan angka kematian penduduk yang tinggi.

Akibat wabah penyakit tropis itu pada awal abad ke 19 penduduk Eropa khususnya orang-orang  Belanda pindah ke selatan kota Batavia yang disebut Weltevreden (kini Lapangan Banteng dan Gambir). Batavia kemudian menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda.

Pada tanggal 8 Agustus 1942 tentara Jepang secara resmi mengganti nama Batavia menjadi Jakarta dan masih berperan sebagai ibukota Republik Indonesia hingga sekarang.

Pada tahun 1635 Belanda memperluas kota Batavia Lama ke tepi barat Sungai Ciliwung. Pada tahun 1650 orang-orang Belanda menyelesaikan pembangunan kota Batavia Lama.

Pada tahun 1972 Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mengeluarkan dekrit yang menyatakan Kota Tua Jakarta sebagai situs warisan budaya.

Daftar Pustaka

https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Tua_Jakarta.
https://sejarahlengkap.com.
wartakotatribunnews.com.
portal-infosejarah.com.
Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Jakarta Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Museum Sumpah Pemuda

Museum Sumpah Pemuda merupakan museum yang menempati bekas rumah seorang etnis Tionghoa bernama Sie Kong Liong yang pernah disewa dan menjadi asrama para pelajar STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen). Tempat ini pernah menjadi kantor sekretariat PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia) dan organisasi pemuda yang lainnya dari seluruh Indonesia. Selain sebagai tempat diskusi politik, gedung yang dahulu berrnama Indonesische Clubgebouw ini merupakan tempat lahirnya sastra karya Mohammad Yamin dan Abu Hanifah. Mahasiswa yang pernah indekost di sini adalah Abu Hanifah, Amir Syarifuddin, Assaat Datuk Muda, Mohammad Yamin, dan lain-lain.

Para aktivis Jong Java yang menempati gedung ini menggunakannya sebagai gedung Langen Siswo. Pada tahun 1934 gedung ini disewakan kepada seorang Tionghoa yang lainnya yaitu Pang Tjeng Tjam sebagai rumahnya.
Pada tahun 1938-1948 bangunan ini menjadi toko bunga. Pada tahun 1948-1951 bangunan ini menjadi kantor dan asrama pegawai Direktorat Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Pada 15 Agustus 1928 di gedung yang dijuluki pula dengan sebutan Gedung Kramat 106 diputuskan akan diselenggarakan Kongres Pemuda yang kedua pada 27-28 Oktober 1928. Di gedung inilah dihasilkan keputusan Kongres Pemuda Kedua yang melahirkan Sumpah Pemuda.

Pada tanggal 3 April 1973 gedung ini dipugar oleh Dinas Sejarah dan Museum Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pemugaran selesai dilakukan pada tanggal 20 Mei 1973. Pada tanggal 20 Mei 1973 Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin meresmikan gedung ini sebagai Museum Sumpah Pemuda. Pada tanggal 20 Mei 1974 gedung ini kembali diresmikan sebagai Museum Sumpah Pemuda kali ini oleh Presiden Republik Indonesia kedua Soeharto.

Daftar Pustaka

https://travel.dream.co.id.
https://belajar.kemdikbud.go.id.
www.museumjakarta.com.
Buku Panduan Wisata Museum Sumpah Pemuda. Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Museum Nasional


Museum Nasional terletak di Jalan Medan Merdeka Barat Nomor 12 Gambir Jakarta Pusat. Museum ini merupakan museum tertua di Indonesia. Museum yang mempunyai nama lain yaitu Museum Gajah atau Gedung Arca ini dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1862 dan mulai digunakan sebagai museum sejak tahun 1868. Dulu museum ini bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Lembaga Ilmun Pengetahuan Batavia).

Eksistensi museum ini dimulai dengan berdirinya Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada tanggal 24 April 1778 yang digagas oleh Gubernur Jenderal VOC Reinier de Klerck. Pada masa itu di Eropa sedang terjadi revolusi intelektual (The Age of Enlightenment) yaitu di mana-mana orang-orang mengembangkanpemikiran-pemikiran ilmiah dan ilmu pengetahuan. Pada tahun 1752 di Haarlem, Belanda, berdiri De Hollandshe Maatschappij der Wetenschappen (Maskapai Ilmu Pengetahuan Belanda). Hal ini mendorong orang-orang Belanda yang tinggal di Batavia mendirikan organisasi sejenis.

Bataviaasch Genootschap Van Kunsten en Wetenschappen didirikan untuk memajukan dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang biologi, fisika, arkeologi, kesusateraan, etnologi, dan sejarah, dan menerbitkan hasil penelitian. Lembaga ini memiliki semboyan " Ten Nutte van Het Algemeene " (Untuk Kepentingan Masyarakat Umum).

Salah satu pendiri lembaga ini, JWM Radermacher, menyumabangkan rumahnya di Jalan Kalibesar kawasan Kota Tua Jakarta. Kecuali itu dia menyumbangkan sejumlah koleksi benda budaya dan buku yang sangat berguna. Koleksi benda budaya dan buku itu kelak menjadi cikal bakal berdirinya Perpustakaan Nasional.

Pada masa penjajahan Inggris di Jawa, Letnan Gubernur Jenderal Inggris di Jawa Sir Thomas Stamford Raffles menjadi direktur lembaga ini. Oleh karena itu rumah di Kalibesar sudah penuh dengan koleksi, Raffles memerintahkan pembangunan Gedung Literary Society sebagai museum dan ruang pertemuan (dulu disebut Gedung Societeit De Harmonie). Bangunan ini berlokasi di Jalan Majapahit Nomor 3. Sekarang di tempat ini berdiri Gedung Sekretariat Negara Republik Indonesia, di dekat Istana kepresidenan.

Oleh karena jumlah koleksi Bataviaasche Genootschap Van Kunsten en Watenschappen terus bertambah, maka dibangunlah gedung baru pada tahun 1862 dan mulai digunakan sebagai museum pada tahun 1868. Tanahnya meliputi Rechthoge School (kini Gedung Kementerian Pertahanan). Di depan gedung ini terdapat patung gajah sumbangan dari raja Thailand Chulalongkorn yang mengunjungi museum ini pada tahun 1871.

Daftar Pustaka
www.museumnasional.or.id.
www.museumjakarta.com.
https://ariesasksono.wordpress.com.
https://ksmtour.com.

Masjid Tangkuban Perahu


Masjid Tangkuban Perahu terletak di Jalan Tangkuban Perahu Setiabudi Jakarta Selatan. Masjid ini dibangun pada tahun 1870 oleh seorang ulama Arab asal Yaman bernama Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Shahab. Letak masjid itu berada di kawasan tangsi milik pemerintah Belanda di antara Jalan Mangunsarkoro dan Jalan J. Latuharhary. Nama asli masjid ini adalah Masjid Shihabudin.

Ketika tempat itu akan dibangun tangsi militer Belanda, masjid Shihabudin (Masjid Tangkuban Perahu) dipindahkan ke Jalan Tangkuban Perahu di tanah wakaf milik Sayid Ali bin Ahmad bin Shahab. Masjid Shihabudin berganti nama menjadi Masjid Tangkuban Perahu. Kepengurusan masjid yang pertama dilakukan oleh K H Mahmud Ramli sejak 1908 hingga meninggal dunia, kemudian digantikan oleh K H Abdullah Muhrim hingga tahun 1980. Setelah itu dilanjutkan oleh puteranya sendiri, H. Ahmad Sarwadi.

Pada tahun 1970an Masjid Tangkuban Perahu direnovasi untuk pertama kali pada masa kepengurusan K H Abdullah Muhrim. Perawatan masjid ini terus berlanjut dan setiap tahun dilakukan pengecatan pada saat menjelang lebaran. Di masjid ini tata cara ritual keagamaan memiliki masjid Betawi, seperti acara Maulid Nabi, Isra Mi`raj, Nisfu Sya`ban dan lain-lain. Hal ini terjadi karena sejak awal berdirinya masjid ini berada di wilayah perkampungan Betawi, sehingga sebagian besar pengurus masjid ini adalah orang Betawi.

Daftar Pustaka

duniamasjid.org.
masjidtangkubanperahu.blogspot.com.
https://megapolitan.kompas.com.
Alwi Shahab. Batavia Kota Banjir. Penerbit Republika Jakarta (2008).

Kantor Pos Taman Fatahillah

Kantor Pos Taman Fatahillah terletak di Jalan Pos Kota Nomor 3 kelurahan Pinangsia Kecamatan Taman Sari Kota Tua Jakarta. Gedung ini dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1928 rancangan arsitek R. Baumgartner dari Burgerlijke Openbare Werken (Departemen Pekerjaan Umum) dan pembangunannya dilaksanakan oleh biro kontraktor NV Nederlands Aneming Maatschappij (Nedam). Awalnya gedung ini digunakan sebagai post en telegraaf kantoor (kantor pos dan telegraf).

Gedung berlanggam Art Deco ini mempunyai dua lantai. Lantai satu digunakan sebagai kantor pos, restoran Kentucky Fried Chicken, counter penjualan pakaian dan museum tiga dimensi. Lantai dua dulu digunakan sebagai kantor Dinas Lalu Lintas dan Jalan Raya, namun sekarang digunakan sebagai ruang pameran seni kontemporer yang diberi nama Galeria Fatahillah.

Daftar Pustaka

https://situsbudaya.id.
https://travel.tempo.co.
https://hkmhdpisulsel.wordpress.com.
infonitas.com.

Museum Wayang

Museum Wayang terletak di Jalan Pintu Besar Utara Nomor 27 kelurahan Pinangsia Kecamatan Taman Sari Kota Tua Jakarta. Pada awalnya bangunan ini merupakan Oud Hollandsche Kerk (Gereja Belanda Lama) yang dibangun pada tahun 1640. Pada tahun 1732 bangunan itu diperbaiki dan berganti nama menjadi Nieuw Hollandsche Kerk (Gereja Belanda Lama).

Pada tahun 1808 bangunan ini hancur akibat gempa bumi. Pada tahun 1912 bangunan ini berfungsi sebagai gudang milik perusahaan dagang Geo Wehry & Co. Pada tanggal 14 Agustus 1936 bangunan ini ditetapkan sebagai Monumenten Ordonnantie (situs yang dilindungi oleh undang-undang cagar budaya). Selanjutnya bangunan itu dibeli oleh Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (kini Museum Nasional), suatu lembaga yang bergerak di bidang penelitian di bidang seni dan ilmu pengetahuan seperti biologi, fisika, arkeologi, kesusasteraan, etnologi, dan sejarah serta menerbitkan hasil penelitian.

Pada tanggal 22 Desember 1939 Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang terakhir, J M A W L Tjarda Van Starkenborgh Stachouwer meresmikan gedung tersebut menjadi Oud Batavia Museum (Museum Batavia Lama). Pada tahun 1957 bangunan ini diserahkan Lembaga Kebudayaan Indonesia (LKI) yang mengubah namanya menjadi Museum Jakarta Lama.

Pada tahun 1962 Museum Jakarta Lama diserahkan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Museum ini telah beberapa kali dipugar. Pada 13 Agustus 1975 Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin  meresmikan bangunan itu sebagai Museum Wayang. Museum Wayang menyimpan koleksi lebih dari 4.000 wayang yang terdiri dari wayang kulit, wayang golek, wayang rumput, wayang kardus serta wayang kulit asal Kamboja, Malaysia, dan Thailand. Selain itu museum ini menyimpan boneka dari  Inggris Raya, Vietnam, Perancis, Amerika Serikat dan Rusia.

Daftar Pustaka

https://thecrazymuseum.wordpress.com.
https://erawisata.com.
www.museumjakarta.com.
https://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Wayang. 

Gedung Eks Harrisons and Crossfields


Gedung eks Harrisons and Crossfields terletak di Jalan Kalibesar Timur Nomor 25 kelurahan Pinagnsia Kecamatan Taman Sari kawasan Kota Tua Jakarta. Gedung bersejarah ini dibangun pada tahun 1910. Lokasinya berdekatan dengan Jembatan Kota Intan dan berada di selatan PT Jasa Raharja dan terminal bis Jakarta Kota. Awalnya merupakan kantor perusahaan dagang Inggris yang bergerak di bidang perdagangan teh, kopi, karet, bahan kimia, dan alat-alat pertanian dari Inggris Raya. Kini bangunan yang berada di pinggir Sungai Ciliwung tersebut berfungsi sebagai toko bunga Muis Florist.

Setelah perkebunan milik Harrisons and Crossfield di nusantara dilepaskan, bangunan lawas ini pernah berganti fungsi dan penggunaannya. bangunan ini pernah pula digunakan gudang logistik PT Jasa Raharja. Kini selain digunakan sebagai toko bunga Muis Florist dan terkadang digunakan untuk menyimpan barang juga, seperti kain-kain perca. Gedung ini pernah pula berfungsi sebagai gudang atau kantor perusahaan perdagangan Belanda.

Daftar Pustaka

Sarisarinah.wordpress.com.
www.academia.edu.
theghama.blogspot.com.
Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Jakarta Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Rabu, 06 Februari 2019

Museum Taman Prasasti

Museum Taman Prasasti juga museum cagar budaya warisan kolonial Belanda yang ada di Jakarta.  Lokasinya berada di Jalan Tanah Abang No. 1 Jakarta Pusat. Museum ini memiliki koleksi prasasti nisan kuno dan beberapa miniatur makam yang berasal dari 27 provinsi di seluruh Indonesia. Selain itu, di sini terdapat kereta pengangkut jenazah yang antik yang dulu digunakan untuk mengangkut jenazah orang-orang Belanda.

Museum ini didirikan pada tahun 1795 dan merupakan sebuah area pemakaman umum yang disebut Kebon Jahe Kober. Pada zaman kolonial Belanda pemakaman itu disebut Kerkhoff (pemakaman). Area pemakaman ini menggantikan pemakaman lainnya yang berada di sekitar Oud Hollandsche Kerk (kini Museum Wayang) di Kota Tua Jakarta yang memang sudah penuh.

Pada awal abad XIX museum itu menerima koleksi nisan dari sebagian besar makam yang ada di sekitar Oud Hollandsche Kerk. Untuk nisan itu sendiri ditandai dengan tulisan HK yang merupakan singkatan dari Oud Hollandsche Kerk atau inisial dariu Hollandsche.

Pada tanggal 9 Juli 1977 Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin meresmikan pemakamn umum Kebon Jahe Kober ini sebagai Museum Taman Prasasti dengan beberapa koleksi prasasti. Museum itu memiliki 1.372 koleksi prasasti yang terbuat dari batu alam, marmer, dan perunggu.

Daftar Pustaka

www.museumjakarta.com.
www.wartakota.tribunnews.com.
https://travelingyuk.com.
https://megapolitan.kompas.com.

Gedung Singa Kuning


Gedung Singa Kuning terletak di Jalan Kalibesar Barat Nomor 3-4 kawasan Kota Tua Jakarta. Gedung bergaya Baroque ini merupakan salah satu situs bersejarah yang ada di Jakarta. Gedung bercat kuning dan terrdapat dua patung singa ini dibangun pada tahun 1778. Gedung ini berada di tengah antara Gedung eks Chartered Bank of India Australia and China serta Toko Merah. Gedung ini memiliki kemiripan dengan Toko Merah. Awalnya merupakan rumah seorang bangsawan Jerman bernama Friedrich Von Wurmb. Dia adalah salah satu pendiri Bataviaasch Genootschap van Kunsten (kini Museum Nasional) dan Perpustakaan Nasional..

Kemudian bangunan itu pernah digunakan sebagai kantor Bank of China serta kantor dan gudang firma Houghton dan Tels & Co. Pada tahun 1921 Gedung Singa Kuning dipugar oleh North Borneo Company.

Daftar Pustaka

https://sporttourism.id.
Kekunaan.blogspot,com.
https://jakartabytrain.com.
Windoro Adi. Batavia 1740 : Menyisir Jejak Betawi. Penerbit PT Gramedia Utama Jakarta (2010). 

Masjid Mangga Dua

Masjid Mangga Dua terletak di Jalan Mangga Dua Dalam dekat pusat perbelanjaan Mangga Dua Jakarta Pusat. Masjid ini dibangun pada tahun 1841. Masjid ini memiliki 4 tiang yang merupakan bagian yang asli. Di sini terdapat makam Sayyid Alwi Bahsan Jamalullail dan ada 12 makam yang menjadi bagian dari masjid. Sayyid Alwi Bahsan Jamalullail adalah keturunan Husein bin Ali bin Abu Thalib, menantu Rasulullah dari puterinya yang bernama Fatima Azzahra.

Di sini ada makam ulama Arab asal Yaman termasuk makam pendiri masjid ini Sayyid Alwi Bahsan Jamalullail dan Sultan Bone yang dikeramatkan oleh sebagian jamaah dan warga. Setiap hari masjid ini dikunjungi oleh banyak peziarah. Terlebih lagi di bulan Sya`ban, Ramadhan, dan Syawal.

Daftar Pustaka

https://wisataziarahmasjid.wordpress.com.
https://daerah.sindonews.com.
www.majelisqummania.com.
Heru Santoso. Wisata Masjid Tua Di Jakarta. Penerbit Nirwana Bandung (2012).

Jembatan Kota Intan

Jembatan Kota Intan terletak di Jalan Kalibesar Barat kelurahan Roa Malaka kecamatan Tambora Kawasan Kota Tua Jakarta. Jembatan ini merupakan satu-satunya jembatan peninggalan kolonial Belanda yang masih ada di Jakarta dan merupakan saksi sejarah Jakarta. 

Belanda membangun jembatan ini pada tahun 1628 untuk menghubungkan antara benteng Belanda di Kalibesar Barat dengan benteng Inggris di Kalibesar Timur. Belanda membangun kembali jembatan ini pada tahun 1630 setelah jembatan ini dibakar oleh pasukan Mataram menyerang Batavia pada tahun 1629. Jembatan ini berrganti nama menjadi jembatan pasar ayam karena di sekitar jembatan ini terdapat pasar ayam.

Pada tahun 1654 jembatan ini mengalami kerusakan akibat banjir dan korosi air laut. Pada tahun 1655 Belanda membangun kembali jembatan ini dan memberinya nama Het Middelpunt Brug (Jembatan Pusat). Pada tahun 1938 jembatan ini berganti nama menjadi Jembatan Wilhelmina untuk menghormati ratu Belanda Wilhelmina.

April 1938 menjadi jembatan gantung dengan nama Ophalsbrug Juliana untuk menghormati ratu Belanda Juliana, putri ratu Wilhelmina.
Pada tanggal 7 September 1972 Dinas Sejarah dan Museum Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan Jembatan Kota Intan sebagai cagar budaya.

Daftar Pustaka
https://.id.wikipedia.org/wiki/Jembatan Kota_Intan.
www.jejakpiknik.com.
https://kabarwisata.com.
Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Jakarta Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.




Toko Merah

Toko Merah terletak di Jalan Kalibesar Barat Nomor 11 kawasan Kota Tua Jakarta. Gedung ini merupakan salah satu situs bersejarah yang ada di Jakarta. Toko Merah dibangun pada tahun 1730 oleh Gubernur Jenderal VOC (Belanda) Gustaaf Willem Baron Van Imhoff ketika dia masih menjabat sebagai opperkopman (pedagang yunior VOC).

Toko Merah menjadi saksi bisu pembantaian warga etnis Tionghoa pada peristiwa Geger Pecinan pada tahun 1740. Mayat-mayat warga etnis Tionghoa menumpuk di Sungai Ciliwung yang ada di depan Toko Merah.

Pada tahun 1743 gedung ini pernah menjadi Akademi Maritim dan pernah pula tempat pelelangan budak. Setelah itu gedung itu pada tahun 1768-1808 pernah pula menjadi penginapan Heerenlodgement dan kediaman para pejabat tinggi Belanda yang lainnya seperti Jacob Mossel Nicolaas Hartingh, Baron Van Hogendorp dan Reinier de Klerck. Toko Merah pernah pula menjadi kediaman Anthony Nacare pada tahun 1809-1813.

Pada tahun 1813-1851 gedung ini menjadi toko milik seorang saudagar Tionghoa bernama Oei Liauw Kong. Nama Toko Merah diberikan setelah gedung ini diberikan kepada Oei Liauw Kong. Pada tahun 1920 Toko Merah direnovasi oleh NV Bouw Maatschappij. Kemudian Toko Merah pernah pula ditempati oleh sejumlah perusahaan Belanda seperti Algemeene Landbouw Syndicaat, De Semarangse Zee en Brandassurantie Maatschappij, dan WM Mueller & Co.

Pada tahun 1934-1942 Toko merah menjadi kantor perusahaan Belanda N.V. Jacobson Van den Berg.
Pada tahun 1942-1945 tentara Jepang menduduki dan menggunakan Toko Merah sebagai kantor Dinas Kesehatan Tentara Jepang dan kemudian gedung ini diduduki oleh tentara Inggris India.

Pada tahun 1946-1952 Toko Merah kembali menjadi kantor N.V. Jacobson Van Den Berg.  Pada tahun 1964 Toko Merah menjadi kantor PT Satya Niaga. Pada tahun 1977 Toko Merah menjadi kantor PT Dharma Niaga.
Pada tahun 1993 Toko Merah menerima sertifikat sadar pemugaran dari Dinas Sejarah dan Museum  Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pada tahun 2012 Toko Merah direstorasi dan kini menjelma sebagai ruang pameran dan tempat konferensi.

Daftar Pustaka
www.netralnews.com.
https://wikipedia.or.org/Toko Merah.
sejarahri.com.
Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Jakarta Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Pemerintah DKI Jakarta.
PT Indonesian Trading Company.

Selasa, 05 Februari 2019

Masjid Tambora

Masjid Tambora terletak di Jalan Tambora Nomor 11 Kelurahan Tambora Kecamatan Tambora kawasan Kota Tua Jakarta. Masjid ini merupakan salah satu masjid bersejarah yang ada di Jakarta. Masjid ini dibangun oleh Haji Moestoyib asal Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, dan komunitas Tionghoa muslim sebagai kontraktor yang dipimpin oleh Ki Daeng. Masjid ini terletak di pinggir Kali Krukut. Dulu Kali Krukut ini digunakan oleh para jemaah Masjid Tambora untuk mengambil air wudhu sebab pada waktu itu Kali Krukut masih bersih.

Haji Moestoyib dibuang oleh Belanda ke Batavia pada tahun 1756 dengan tuduhan menghasut pemberontakan melawan pemerintah Belanda. Dia dihukum kerja paksa selama lima tahun.
Setelah dibebaskan oleh pemerintah Belanda, pemerintah Belanda memberinya lahan di Tambora. Di sana dia membangun sebuah masjid yang diberi nama Masjid Tambora untuk mengenang kampung halaman Haji Moestoyib yang berada di kaki Gunung Tambora.

Pada masa revolusi fisik tepatnya bulan Oktober 1945 masjid ini pernah digedor oleh tentara Belanda dan menangkap para pengurusnya antara lain Mad Supi. Pada tahun 1979 Masjid Tambora dipugar melalui Proyek Sasana Budaya dan dipugar oleh Dinas Sejarah dan Museum Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada tahun 1980 dengan menambahkan aula dan tempat sholat wanita di sisi selatan.

Dibelakang masjid ini terdapat monumen Tambora yang merupakan sumbangan perusahaan Nio Peng Loze. Monumen ini dibangun untuk menghargai para pejuang Indonesia yang gugur dalam pertempuran melawan pasukan Belanda dan Inggris di wilayah kampung dari sekitar Jembatan Lima pada tanggal 12 Desember 1945. Monumen itu dibangun pada tanggal 31 Desember 1945. Pada tanggal 26 September 1960 makam mereka dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta Selatan atas permintaan Skogar III. Tujuannya agar para pejuang yang gugur dilokalisir di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

(Daftar Pustaka
www.aroengbinang.com.
jakarta.tribunnews.com.
bujangmasjid.blogspot.com.
Ensiklopedi Jakarta. Dinas Sejarah dan Permuseuman Pemerintah Provinsi DKI Jakarta 2010).

Museum Sejarah Jakarta

Museum Sejarah Jakarta atau yang lebih dikenal dengan sebutan Museum Fatahillah terletak di Jalan Taman Fatahillah Nomor 1 kawasan Kota Tua Jakarta. Gedung ini merupakan salah satu saksi sejarah Jakarta dan merupakan salah satu warisan Belanda yang masih ada di Jakarta. Gedung ini pertama kali dibangun oleh Gubernur Jenderal VOC (Belanda) pada tahun 1621 dan dibangun lagi pada tahun 1627.

Pada masa itu gedung ini disebut Stadhuis (Balaikota) Batavia. Namun gedung ini pernah terbakar ketika pasukan Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung Anyokrokusumo menyerang Batavia pada tahun 1628.

Pada tanggal 25 Januari 1707 gedung ini dibangun kembali pada zaman pemerintahan Gubernur Jenderal VOC Joan Van Hoorn yang ditandai dengan peletakkan batu pertama pembangunan gedung ini oleh puteri Joan Van Hoorn, Petronella Wilhelmina van Hoorn dan diresmikan  pada tanggal 10 Juli 1710 pada zaman pemerintahan Gubernur Jenderal VOC Abraham Van Riebeeck. Gedung ini rancang oleh J van de Delde. Pada tahun 1648 kondisi gedung ini sangat buruk. Tanah di Batavia sangat labil dan beratnya bangunan ini menyebabkan perlahan-lahan turun dari permukaan tanah.

Selain berfungsi sebagai balaikota, Gedung ini berfungsi pula sebagai gereja, panti asuhan yatim piatu, dan Raad Van Justitie (Pengadilan Tinggi yang khusus menangani pidana orang-orang Belanda ). Pada zaman penjajahan Inggris, Letnan Gubernur Jenderal Inggris di Jawa, Sir Thomas Stamford Raffles, menjadikannya pula sebagai balaikota dan kantor residen Inggris (1811-1816).

Ketika Belanda kembali berkuasa di Indonesia, gedung ini kembali berfungsi sebagai balaikota hingga tahun 1926. Pada tahun 1926-1942 gedung ini berfungsi sebagai kantor Gubernur Jawa Barat. Pada tahun 1942-1945 gedung ini diduduki oleh tentara Jepang yang menggunakannya sebagai gudang logistik tentara Jepang. Pada tahun 1945-1952 gedung ini menjadi kantor Gubernur Jawa Barat. Pada tahun 1952-1967 gedung ini diserahkan kepada TNI (Tentara Nasional Indonesia).

Pada tahun 1967 TNI menyerahkan gedung ini kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Pada tahun 1974 Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin meresmikan gedung bersejarah ini menjadi Museum Sejarah Jakarta.

(Daftar Pustaka  https://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Fatahillah.
www.museumindonesia.com.)


 

Masjid Matraman

Masjid Matraman terletak di Jalan Masjid Matraman Kelurahan Pegangsaan Kecamatan Menteng Jakarta Pusat dan berbatasan pula dengan wilayah kecamatan Matraman Jakarta Timur. Masjid ini merupakan salah satu saksi sejarah di Jakarta.

Menurut Ensiklopedi Jakarta Masjid Matraman didirikan oleh pasukan Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung Anyokrokusumo  ketika menyerang orang-orang Belanda di Batavia dalam bentuk musholla pada tahun 1628. Masjid ini dibangun di atas lahan bekas kandang burung milik orang Belanda. Masjid Matraman merupakan masjid agung yang pertama di Jakarta.

Masjid Matraman diresmikan oleh putera Pangeran Diponegoro bernama Pangeran Djonet yang memimpin sholat jumat yang pertama di masjid itu. Dia menamai masjid itu dgn nama Masjid Agung Dalem Mataraman.

Pada tahun 1930 Masjid Matraman dipugar oleh arsitek asal Maluku bernama Nyai Patiloy. Pahlawan nasional asal Sumatera Barat dan tokoh Sarekat Islam Haji Agus Salim pernah menjadi ketua pembangunan masjid itu.

Pemerintah kolonial Belanda tidak setuju dengan pembangunan Masjid Matraman yang berada di jalan dan memerintahkan agar dibangun lebih ke dalam. Pemerintah kolonial Belanda berjanji akan membantu biaya 10.000 gulden. Namun hal ini diprotes oleh Gemeenteraad Batavia (kini DPRD DKI Jakarta) dan para ulama Betawi.

Pada tahun 1940 masjid ini mendapatkan bantuan dari Saudi Arabia.

Asal-usul Matraman berasal dari sebuah masjid kecil di pinggir  Sungai Ciliwung yang digunakan oleh para pangeran Kesultanan Mataram. Di tempat itu pernah ada rumah seorang pangeran yang bercorak Jawa dengan tiang-tiang besar.

(Dinas Sejarah dan Permuseuman Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ensiklopedi Jakarta Jilid II 2010).