Jumat, 08 Februari 2019

Museum Kebangkitan Nasional


Museum Kebangkitan Nasional terletak di Jalan Dr Abdurrahman Saleh Nomor 26 Senen Jakarta Pusat. Bangunan lawas ini merupakan salah satu bangunan warisan kolonial Belanda yang masih ada di Jakarta hingga sekarang. Pemerintah Belanda membangun gedung ini pada tahun 1899 menggantikan Sekolah Dokter Jawa yang telah berdiri sejak tanggal 1 Januari 1851 di rumah sakit militer Weltevreden (kini RSPAD Gatot Subroto Jakarta).

Latar belakang berdirinya lembaga pendidikan kedokteran di Indonesia yaitu munculnya wabah penyakit pes yang terjadi di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada tahun 1847. Pada saat itu pemerintah Belanda kekurangan tenaga medis untuk memberantas penyakit itu. Pada tanggal 2 Januari 1849 Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengeluarkan surat keputusan untuk mendirikan kursus mantri cacar. Kemudian pemerintah kolonial Belanda mulai merekrut para pemuda Jawa untuk dijadikan sebagai mantri cacar.

Masa pendidikan Sekolah Dokter Jawa dua tahun. Pendidikan diikuti oleh 12 orang yang semuanya berasal dari Pulau Jawa. Materi Pelajaran meliputi cara mencacar dan memberikan kepada pasien yang menderita sakit panas dan sakit perut. Bahasa pengantar menggunakan bahasa Melayu.

Pada tanggal 5 Juni 1853 Sekolah Dokter Jawa meluluskan 11 pelajar dan memberikan mereka dengan gelar Dokter Jawa. Mereka dipekerjakan sebagai mantri cacar, diperbantukan di Rumah Sakit Militer Weltevreden, dan membantu dokter militer Belanda merangkap sebagai dokter sipil.

Sejak tahun 1856 Sekolah Dokter Jawa menerima dua orang siswa asal Minahasa, Sulawesi Utara, dan Sumatera Barat. Pada tahun 1864 lama pendidikan Sekolah Dokter Jawa ditingkatkan dari 2 tahun menjadi 3 tahun dengan jumlah siswa dibatasi 50 orang. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas para dokter sehingga mampu bekerja sendiri di bawah pengawasan dokter Belanda dan pemerintah daerah. Namun pengabdian mereka mendapatkan penolakan dari beberapa dokter Belanda, sehingga sejak tahun 1864 pemerintah Belanda mencabut wewenang praktek dokternya dan mempekerjakan mereka sebagai mantri cacar.

Pada tahun 1875 lama pendidikan Sekolah Dokter Jawa ditingkatkan menjadi 7 tahun dengan jumlah siswa 100 orang. Pada tahun 1899 Direktur Sekolah Dokter Jawa Dr. H.F. Roll mengaggas pembangunan gedung baru. Pembangunan gedung baru itu sempat berhenti karena kekurangan dana. Namun, berkat bantuan dana dari pengusaha perkebunan tembakau berkebangsaan Belanda asal Deli, Sumatera Utara, bernama  H D Van Der Honert dan P.W. Janssens pembangunan gedung baru itu kembali terlaksana. Pada bulan September 1901 di Batavia muncul wabah penyakit beri-beri yang menyerang siswa Sekolah Dokter Jawa, sehingga pemindahan pelajar Sekolah Dokter Jawa dari Rumah Sakit Militer Weltevreden ke gedung baru di Hospitaalweg (sekarang Jalan Dr Abdurrahman Saleh) tertunda.

Pada tanggal 1 Maret 1902 Gedung baru itu diresmikan dengan nama STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen), yaitu Sekolah Dokter Bumiputera. Selama menjalani pendidikan, para siswa STOVIA wajib tinggal di asrama dan diawasi oleh seorang suppoost yang orang Indo Belanda dan menerapkan disiplin yang ketat. Jadwal kegiatan ditentukan dari pagi hingga malam hari, bagi yang melanggar peraturan akan dihukum sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Pada tahun 1909 STOVIA meluluskan siswa-siswanya untuk pertama kali dengan memberika gelar Inlandsche Arts. Jumlah siswa STOVIA yang terus bertambah menyebabkan Gedung STOVIA tidak lagi mampu menampung siswa-siswa baru.

Pada tahun 1919 pemerintah Belanda mendirikan CBZ (Centraal Burgerlijke Ziekeninrichting), sekarang Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo yang dipimpin oleh Dr. Hulskoff. Rumah sakit ini menjadi tempat praktek para siswa STOVIA karena sarana dan prasarana lebih lengkap dan modern.

Pada tanggal 5 Juli 1920 aktivitas belajar mengajar di STOVIA dipindahkan dari gedung lama ke gedung baru di Jalan Salemba 6 Jakarta karena fasilitasnya yang lebih lengkap. Gedung baru itu kini bernama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Sejak itu Gedung lama STOVIA berfungsi sebagai MULO (sekolah setingkat SMP) dan Sekolah Apoteker. Pada tahun 1928 Gedung Eks STOVIA menjadi tempat penyelenggaraan kongres pemuda kedua yang melahirkan Sumpah Pemuda.

Pada zaman pendudukan Jepang Gedung eks STOVIA digunakan oleh tentara Jepang untuk menampung para tawanan perang Belanda. Pada tahun 1945-1975 gedung ini menjadi pemukiman tentara Belanda etnis Ambon.

Pada tanggal 6 April 1973 Gedung eks STOVIA dipugar oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Pada tanggal 20 Mei 1974 Gedung eks STOVIA diresmikan oleh Presiden Soeharto sebagai Museum Kebangkitan Nasional.
Pada tanggal 12 Desember 1983 Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan menetapkan Museum Kebangkitan Nasional sebagai bangunan cagar budaya.

Daftar Pustaka

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id.
https://travel.detik.com.
www.jejakpiknik.com.
Buku Panduan Wisata Museum Kebangkitan Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar