Selasa, 05 Februari 2019

Masjid Tambora

Masjid Tambora terletak di Jalan Tambora Nomor 11 Kelurahan Tambora Kecamatan Tambora kawasan Kota Tua Jakarta. Masjid ini merupakan salah satu masjid bersejarah yang ada di Jakarta. Masjid ini dibangun oleh Haji Moestoyib asal Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, dan komunitas Tionghoa muslim sebagai kontraktor yang dipimpin oleh Ki Daeng. Masjid ini terletak di pinggir Kali Krukut. Dulu Kali Krukut ini digunakan oleh para jemaah Masjid Tambora untuk mengambil air wudhu sebab pada waktu itu Kali Krukut masih bersih.

Haji Moestoyib dibuang oleh Belanda ke Batavia pada tahun 1756 dengan tuduhan menghasut pemberontakan melawan pemerintah Belanda. Dia dihukum kerja paksa selama lima tahun.
Setelah dibebaskan oleh pemerintah Belanda, pemerintah Belanda memberinya lahan di Tambora. Di sana dia membangun sebuah masjid yang diberi nama Masjid Tambora untuk mengenang kampung halaman Haji Moestoyib yang berada di kaki Gunung Tambora.

Pada masa revolusi fisik tepatnya bulan Oktober 1945 masjid ini pernah digedor oleh tentara Belanda dan menangkap para pengurusnya antara lain Mad Supi. Pada tahun 1979 Masjid Tambora dipugar melalui Proyek Sasana Budaya dan dipugar oleh Dinas Sejarah dan Museum Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada tahun 1980 dengan menambahkan aula dan tempat sholat wanita di sisi selatan.

Dibelakang masjid ini terdapat monumen Tambora yang merupakan sumbangan perusahaan Nio Peng Loze. Monumen ini dibangun untuk menghargai para pejuang Indonesia yang gugur dalam pertempuran melawan pasukan Belanda dan Inggris di wilayah kampung dari sekitar Jembatan Lima pada tanggal 12 Desember 1945. Monumen itu dibangun pada tanggal 31 Desember 1945. Pada tanggal 26 September 1960 makam mereka dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta Selatan atas permintaan Skogar III. Tujuannya agar para pejuang yang gugur dilokalisir di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

(Daftar Pustaka
www.aroengbinang.com.
jakarta.tribunnews.com.
bujangmasjid.blogspot.com.
Ensiklopedi Jakarta. Dinas Sejarah dan Permuseuman Pemerintah Provinsi DKI Jakarta 2010).

1 komentar: