Sabtu, 09 Februari 2019

Museum Dan Galeri Fotografi Jurnalistik ANTARA

Museum Dan Galeri Fotografi dan Jurnalistik ANTARA terletak di Jalan Antara Pasar Baru Jakarta Pusat. Bangunan ini terletak tepat di ujung selatan Pasar Baru dan dilalui oleh bis Transjakarta jurusan Harmoni-PGC dan Kali Deres-Pasar Baru. Obyek-obyek wisata lainnya yang berdekatan dengan bangunan ini adalah Gedung Kesenian Jakarta, Kantor Filateli Jakarta, Masjid Istiqlal, dan Gereja Katedral.

Bangunan lawas ini dibangun pada awal abad kedua puluh. Awalnya merupakan gedung kantor berita Belanda ANETA (Algemeene Nieuws En Taal Agentschapp) yang memonopoli pemberitaan di seluruh Hindia Belanda. Sebelumnya kantor pusat ANTARA berada di Jalan Pinangsia di kawasan Glodok Kota Tua Jakarta dan pernah pula pindah ke Jalan Tanah Abang Barat Nomor 90 depan Rumah Sakit Budi Kemuliaan. Kantor Berita ANTARA didirikan oleh Alfred Sipahutar, Pandu Kartawiguna, Adam Malik, dan Sumanang SH atas prakarsa sastrawan Sanusi Pane pada tanggal 13 Desember 1937. Asal-usul nama ANTARA konon diambil dari nama surat kabar PERANTARAAN yang dipimpin oleh Sumanang SH.

Latar belakang berdirinya Kantor Berita ANTARA adalah rasa nasionalisme para wartawan Indonesia dan pemberitaan bohong yang diberitakan oleh kantor berita Belanda ANETA. Pada tanggal 29 Mei 1942 tentara Jepang menduduki gedung itu dan mengganti namanya menjadi kantor Berita DOMEI yang menjadi bagian dari kantor berita Jepang Yashima. Pada masa pendudukan Jepang ini semua kantor berita di Indonesia harus diregistrasi oleh Dinas Propaganda Jepang SENDENBU. SENDENBU melarang masuknya berita-berita dari luar negeri dan bahkan SENDENBU mensensor berita-berita yang masuk.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 gedung itu menjadi salah satu saksi sejarah kemerdekaan Indonesia karena dari gedung inilah proklamasi kemerdekaan Indonesia disiarkan ke seluruh Indonesia dan seluruh dunia. Pembacaan teks proklamasi di gedung itu didiktekan oleh Adam Malik tanpa menghiraukan izin dari Hondokan (Badan Sensor Jepang) seperti lazimnya kemudian oleh Penghulu Lubis dikirim ke bagian Radio dan menyelipkan di antara berita-berita lainnya. Pelaksanaan penyiarannya dilakukan oleh markonis Sugiri danberita proklamasi itu dikirim oleh markonis Wua.

Pada tanggal 2 September 1945 para wartawan kantor Berita ANTARA di bawah pimpinan Adam Malik mengambil alih kantor berita ANTARA dari pihak Jepang. Ketika ibukota Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta pada tanggal 4 Januari 1946 karena pasukan Belanda menduduki Jakarta, kantor Berita ANTARA turut pindah ke Yogyakarta dan Kantor Berita ANTARA cabang Jakarta ditetapkan sebagai cabang.

Selama perang kemerdekaan banyak wartawan kantor berita ANTARA yang turut bertempur di medan perang dan mengabadikan peristiwa-peristiwa bersejarah pada masa itu, seperti peristiwa perobekan warna biru bendera Belanda di Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit) di Surabaya pada tanggal 19 September 1945 yang diabadikan oleh seorang wartawan kantor berita ANTARA bernama Abdul Wahab Saleh.

Pada tanggal 1 Maret 1947 kantor berita ANTARA melakukan siaran ke luar negeri untuk pertama kali yang ditandai dengan ketukan morse yang dilakukan oleh Presiden Soekarno.
Pada tahun 1962 Presiden Soekarno mengubah nama Kantor Berita ANTARA menjadi LKBN (Lembaga Kantor Berita ANTARA).
Pada tanggal 12 Desember 1962 APB (Arabian Press Bureau) dilebur ke dalam Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara.
Pada tanggal 13 Desember 1962 ANETA dibubarkan.

Museum dan Galeri foto jurnalistik ANTARA menyimpan koleksi morse (pengirim berita dengan menggunakan kode), mesin stensil (mesin penggandaan kertas koran), mesin tik, mesin yang digunakan oleh para wartawan pada masa perang kemerdekaan, dan kliping koran dan majalah yang terbit di Indonesia pada zaman kolonial Belanda di lantai atas. Lantai bawahnya adalah ruang galeri dan pameran foto.

Daftar Pustaka

https://travel.detik.com.
https://ceciliaadrianto.wordpress.com.
https://kebudayaan.kemdikbud.com.
Arsip Museum dan Galeri Foto ANTARA.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar